Rebalancing Portofolio

Cara dan kapan melakukan rebalancing portofolio investasi. Panduan praktis menjaga alokasi aset tetap sesuai rencana.

Rebalancing Portofolio

Anda sudah menentukan alokasi aset — misalnya 70% saham dan 30% obligasi. Tapi seiring waktu, proporsi ini akan bergeser karena kinerja masing-masing aset berbeda. Rebalancing adalah proses mengembalikan portofolio ke alokasi target.

Mengapa Portofolio Perlu Direbalancing?

Contoh sederhana:

Awal TahunAkhir Tahun (tanpa rebalancing)
reksa dana sahamRp 70 juta (70%)Rp 84 juta (+20%)
Reksa dana obligasiRp 30 juta (30%)Rp 31,5 juta (+5%)
TotalRp 100 jutaRp 115,5 juta
Alokasi baru70/3072,7/27,3

Setelah saham naik 20% dan obligasi naik 5%, alokasi Anda bergeser dari 70/30 menjadi 73/27. Portofolio Anda sekarang lebih berisiko dari rencana awal.

Jika ini dibiarkan selama bertahun-tahun, portofolio bisa bergeser menjadi 85/15 atau bahkan 90/10 — jauh dari rencana Anda.

Cara Melakukan Rebalancing

Ada dua metode utama:

Metode 1: Jual-Beli (Tradisional)

Jual aset yang proporsinya terlalu besar, beli aset yang proporsinya terlalu kecil.

Dari contoh di atas:

  • Target: 70% saham = Rp 80,85 juta; 30% obligasi = Rp 34,65 juta
  • Aksi: Jual reksa dana saham Rp 3,15 juta, beli reksa dana obligasi Rp 3,15 juta

Kelebihan: Portofolio langsung kembali ke target. Kekurangan: Bisa ada biaya transaksi (untuk ETF/saham langsung). Untuk reksa dana, tidak ada biaya.

Metode 2: Alokasi Investasi Baru (Lebih Praktis)

Alih-alih menjual, arahkan investasi baru ke aset yang proporsinya kurang.

Dari contoh di atas:

  • Obligasi kurang 2,7% dari target
  • Investasi bulan depan Rp 2 juta → alokasikan lebih banyak ke obligasi sampai proporsi kembali seimbang

Kelebihan: Tidak perlu jual apa pun, tidak ada biaya transaksi, tidak ada event pajak. Kekurangan: Lebih lambat — perlu beberapa bulan untuk kembali ke target jika deviasi besar.

Untuk kebanyakan investor dengan investasi rutin bulanan, Metode 2 sudah cukup.

Kapan Melakukan Rebalancing?

Ada dua pendekatan:

Pendekatan Berkala (Calendar-Based)

Rebalancing pada interval waktu tetap:

FrekuensiCocok Untuk
BulananTerlalu sering — biasanya tidak perlu
TriwulananCukup baik
SemesteranPilihan yang paling populer
TahunanSederhana, efektif

Rekomendasi: setahun sekali atau setiap 6 bulan. Cukup buka portofolio, lihat apakah alokasi masih mendekati target, dan sesuaikan jika perlu.

Pendekatan Threshold (Band-Based)

Rebalancing hanya jika alokasi menyimpang lebih dari batas tertentu:

Alokasi TargetThresholdRebalancing Jika…
Saham 70%± 5%Saham > 75% atau < 65%
Obligasi 30%± 5%Obligasi > 35% atau < 25%

Kelebihan: Lebih efisien — Anda tidak rebalancing jika penyimpangan masih kecil. Kekurangan: Harus memantau portofolio lebih sering.

Rebalancing dalam Praktik di Indonesia

Karena reksa dana di Indonesia tidak dikenakan pajak atas keuntungan dan tidak ada biaya jual-beli di platform seperti Bibit dan Bareksa, rebalancing di Indonesia sangat mudah dan gratis.

AspekIndonesiaNegara Lain (misal AS)
Pajak saat jual reksa dana0%Bisa kena capital gains tax
Biaya jual reksa dana0%Bisa ada redemption fee
Biaya beli reksa dana0%Bisa ada subscription fee
Hambatan rebalancingPraktis tidak adaPajak dan biaya jadi pertimbangan

Ini keuntungan besar bagi investor Indonesia — Anda bisa rebalancing tanpa konsekuensi biaya apa pun.

Contoh Rebalancing Tahunan

Budi memiliki portofolio dengan target 70% saham / 30% obligasi. Ini yang terjadi selama 3 tahun:

Tahun 1

AsetNilaiProporsiTargetAksi
Reksa dana indeksRp 84 juta73%70%Jual Rp 3,5 juta
Reksa dana obligasiRp 31 juta27%30%Beli Rp 3,5 juta

Tahun 2 (setelah pasar turun)

AsetNilaiProporsiTargetAksi
Reksa dana indeksRp 65 juta62%70%Beli Rp 8,4 juta
Reksa dana obligasiRp 40 juta38%30%Jual Rp 8,4 juta

Perhatikan tahun 2: rebalancing memaksa Anda membeli saham saat harganya turun dan menjual obligasi saat harganya naik. Ini adalah “jual mahal, beli murah” secara otomatis — tanpa perlu menebak arah pasar.

Tahun 3

AsetNilaiProporsiTargetAksi
Reksa dana indeksRp 95 juta71%70%Jual Rp 1,3 juta
Reksa dana obligasiRp 39 juta29%30%Beli Rp 1,3 juta

Deviasi kecil (1%) — bisa juga memilih untuk tidak melakukan apa-apa.

Apakah Rebalancing Meningkatkan Return?

Penelitian akademis menunjukkan hasil yang beragam. Rebalancing tidak dijamin meningkatkan return, tapi:

  1. Menjaga tingkat risiko sesuai rencana — ini manfaat utamanya
  2. Memaksa disiplin — jual yang naik, beli yang turun
  3. Mencegah portofolio menjadi terlalu agresif menjelang tujuan investasi

Anggap rebalancing sebagai alat manajemen risiko, bukan alat peningkat return.

Tips Praktis

  1. Catat alokasi target Anda — tulis di catatan HP atau spreadsheet
  2. Jadwalkan reminder — misalnya setiap 1 Januari dan 1 Juli
  3. Gunakan metode investasi baru jika deviasi kecil (<3%)
  4. Jual-beli jika deviasi besar (>5%) — di Indonesia ini gratis untuk reksa dana
  5. Jangan rebalancing terlalu sering — setiap hari melihat portofolio bukan rebalancing, itu cemas

Kesimpulan

  • Rebalancing mengembalikan portofolio ke alokasi target
  • Lakukan 1-2 kali per tahun atau saat deviasi melebihi 5%
  • Di Indonesia, rebalancing reksa dana gratis dan bebas pajak — manfaatkan
  • Metode paling praktis: arahkan investasi baru ke aset yang proporsinya kurang
  • Rebalancing adalah alat manajemen risiko, bukan peningkat return
  • Tetapkan jadwal, lakukan, dan lupakan sampai jadwal berikutnya

Disclaimer: Artikel ini hanya untuk edukasi, bukan saran investasi.

Disclaimer: Artikel ini hanya untuk tujuan edukasi dan bukan merupakan saran investasi. Selalu lakukan riset sendiri dan konsultasikan dengan penasihat keuangan berlisensi sebelum membuat keputusan investasi.