Bahaya Mengikuti Finfluencer
Finfluencer sering menjual mimpi, bukan edukasi. Pelajari mengapa Anda harus skeptis terhadap saran investasi di media sosial.
Bahaya Mengikuti Finfluencer
Buka TikTok atau Instagram, dan Anda akan dibanjiri konten seperti:
- “Cara dapat Rp 10 juta per bulan dari saham!”
- “Rahasia saham 100% dalam sebulan!”
- “Portofolio saya naik 200% — ini caranya!”
Mereka disebut finfluencer — financial influencer. Masalahnya, sebagian besar saran mereka berbahaya untuk keuangan Anda.
Apa Itu Finfluencer?
Finfluencer adalah pembuat konten di media sosial yang membahas investasi, trading, atau keuangan pribadi. Mereka bukan penasihat keuangan berlisensi (sebagian besar tidak). Mereka adalah content creator yang kebetulan (atau sengaja) memilih topik keuangan karena topik ini sangat menarik perhatian.
Model bisnis mereka:
- Konten gratis → menarik followers
- Kelas berbayar → monetisasi (Rp 500.000 - Rp 5.000.000 per kelas)
- Affiliate links → komisi dari platform investasi
- Paid promotion → dibayar perusahaan untuk mempromosikan produk
- Pump and dump → dalam kasus terburuk, mempromosikan saham yang mereka miliki agar harganya naik
Insentif mereka bukan membuat Anda kaya. Insentif mereka adalah mendapat engagement dan menjual kelas.
Kasus Nyata di Indonesia
Jouska (2020)
PT Jouska Finansial Indonesia beroperasi sebagai penasihat keuangan dan influencer di media sosial. Mereka:
- Mengelola dana klien tanpa izin dari OJK
- Menjanjikan return tinggi
- Mengarahkan dana klien ke saham tertentu yang menguntungkan pihak internal
- Dicabut izinnya oleh OJK pada 2020
- Klien kehilangan miliaran rupiah
Saham Gorengan di Telegram/Discord
Grup-grup saham di Telegram dan Discord sering beroperasi dengan pola:
- “Bandar” membeli saham penny stock dalam jumlah besar
- Menyebarkan “rekomendasi” ke ribuan follower
- Followers membeli → harga naik
- Bandar menjual di harga tinggi
- Harga jatuh → followers rugi
Ini adalah pump and dump klasik, dan ini ilegal — tapi sangat sulit dibuktikan dan jarang ditindak.
Crypto Influencer
Selama bull market crypto 2021, banyak influencer Indonesia mempromosikan:
- Token yang mereka dapat gratis dari developer (undisclosed paid promotion)
- Proyek DeFi yang kemudian rug pull
- NFT yang nilainya sekarang mendekati nol
Berapa banyak dari mereka yang memposting update setelah proyek-proyek tersebut kolaps? Hampir tidak ada.
5 Red Flag Finfluencer
Waspadai jika Anda melihat pola berikut:
1. Menjanjikan return spesifik
“Return 30% per tahun dijamin” atau “Passive income Rp 5 juta per bulan dari saham Rp 50 juta.”
Kenyataan: Tidak ada investasi yang bisa menjamin return. IHSG rata-rata ~10-12% per tahun dalam jangka panjang — dan itu pun tidak konsisten setiap tahun.
2. Hanya menunjukkan profit, tidak pernah rugi
Screenshot portfolio selalu hijau. Tidak pernah membahas posisi yang rugi atau periode drawdown.
Kenyataan: Semua investor — termasuk Warren Buffett — pernah dan akan mengalami kerugian. Jika seseorang selalu profit, mereka berbohong atau cherry-picking.
3. Menjual urgency
“Harga saham X akan meroket minggu depan!” “Beli sekarang sebelum terlambat!”
Kenyataan: Jika seseorang benar-benar tahu saham mana yang akan naik, mereka akan diam dan beli sendiri — bukan memberitahu jutaan orang di Instagram.
4. Gaya hidup mewah sebagai “bukti”
Pamer mobil, jam tangan, hotel mewah sebagai bukti keberhasilan investasi.
Kenyataan: Kekayaan mereka (jika asli) biasanya dari menjual kelas dan produk, bukan dari investasi. Beberapa bahkan menyewa properti dan barang mewah hanya untuk konten.
5. Menjual kelas “rahasia”
“Saya akan bagikan strategi rahasia saya di kelas eksklusif saya — hanya Rp 2.000.000.”
Kenyataan: Tidak ada strategi rahasia dalam investasi. Prinsip investasi yang terbukti berhasil (diversifikasi, biaya rendah, jangka panjang) sudah tersedia gratis di mana-mana. Termasuk di situs ini.
Mengapa Saran Finfluencer Sering Salah
Mereka tidak punya kualifikasi
Di Indonesia, untuk menjadi penasihat investasi resmi, Anda memerlukan:
- Izin dari OJK
- Sertifikasi WMI (Wakil Manajer Investasi) atau WPPE (Wakil Perantara Pedagang Efek)
- Pengawasan ketat dan kewajiban pelaporan
Finfluencer? Mereka hanya perlu HP dan akun media sosial. Tidak ada filter kualitas.
Insentif mereka bertentangan dengan kepentingan Anda
- Anda butuh saran membosankan tapi benar: “Beli reksa dana indeks setiap bulan”
- Mereka butuh konten menarik: “10 saham yang akan naik 100% tahun ini!”
Saran yang benar dan saran yang viral hampir tidak pernah sama.
Mereka tidak bertanggung jawab atas kerugian Anda
Penasihat keuangan berlisensi memiliki kewajiban hukum (fiduciary duty). Jika saran mereka menyebabkan kerugian karena kelalaian, mereka bisa dituntut.
Finfluencer? Mereka menulis disclaimer kecil “bukan saran investasi” dan bebas dari tanggung jawab apa pun.
Apa yang Harus Dilakukan?
1. Skeptis terhadap semua saran investasi di media sosial
Termasuk dari akun-akun besar dengan jutaan followers. Popularitas bukan indikator kebenaran.
2. Cari sumber yang evidence-based
Baca riset akademis, data dari OJK/BEI, buku-buku investasi klasik. Beberapa rekomendasi:
- “A Random Walk Down Wall Street” oleh Burton Malkiel
- “The Little Book of Common Sense Investing” oleh John Bogle
- Data SPIVA dari S&P Dow Jones Indices (bukti bahwa fund manager aktif kalah dari indeks)
3. Tanya: “Bagaimana orang ini menghasilkan uang?”
Jika mereka menjual kelas, affiliate link, atau promosi produk — saran mereka bias. Itu tidak berarti selalu salah, tapi Anda harus tahu motivasinya.
4. Ikuti prinsip investasi, bukan prediksi
Prinsip yang sudah terbukti:
- Diversifikasi
- Biaya rendah
- Investasi rutin jangka panjang
- Jangan panik saat pasar turun
Ini tidak akan pernah jadi konten viral, tapi ini yang benar-benar berhasil.
Ringkasan
| Finfluencer Bilang | Kenyataan |
|---|---|
| ”Return 30% per tahun” | IHSG rata-rata ~10-12%, tidak ada jaminan |
| ”Saya selalu profit” | Semua investor pernah rugi |
| ”Beli saham X sekarang!” | Tidak ada yang bisa memprediksi harga saham jangka pendek |
| ”Ikut kelas rahasia saya” | Prinsip investasi yang benar sudah tersedia gratis |
| ”Lihat gaya hidup saya” | Biasanya dari menjual kelas, bukan dari investasi |
Investasi yang membosankan tidak layak jadi konten viral. Tapi investasi yang membosankan adalah yang benar-benar bekerja.
Disclaimer: Artikel ini hanya untuk edukasi, bukan saran investasi.