Inflasi dan Mengapa Deposito Saja Tidak Cukup
Memahami bagaimana inflasi menggerus nilai uang Anda dan mengapa deposito bank tidak mampu melindungi daya beli dalam jangka panjang.
Inflasi dan Mengapa Deposito Saja Tidak Cukup
Uang Anda kehilangan nilai setiap hari. Ini bukan hiperbola — ini fakta matematis yang bisa dibuktikan dengan data Bank Indonesia selama puluhan tahun. Jika Anda menyimpan uang di deposito dan merasa “aman,” artikel ini akan menjelaskan mengapa perasaan aman itu bisa menipu.
Apa Itu Inflasi?
Inflasi adalah kenaikan harga barang dan jasa secara umum dan terus-menerus dalam suatu perekonomian. Ketika inflasi naik 5%, artinya barang yang tahun lalu harganya Rp 100.000 sekarang harganya Rp 105.000. Uang Anda tidak berkurang jumlahnya, tapi daya belinya menurun.
Bank Indonesia (BI) memiliki target inflasi sebesar 2,5% ± 1% — artinya BI menganggap inflasi yang sehat berada di kisaran 1,5% hingga 3,5% per tahun. Namun kenyataannya, rata-rata inflasi Indonesia selama 20 tahun terakhir berada di kisaran 4-5% per tahun.
Data Inflasi Indonesia
Berikut data inflasi tahunan Indonesia dari BI:
| Tahun | Inflasi (%) |
|---|---|
| 2015 | 3,35 |
| 2016 | 3,02 |
| 2017 | 3,61 |
| 2018 | 3,13 |
| 2019 | 2,72 |
| 2020 | 1,68 |
| 2021 | 1,87 |
| 2022 | 5,51 |
| 2023 | 2,61 |
| 2024 | 1,57 |
| 2025 | ~2,5 (est) |
Sumber: Bank Indonesia, Badan Pusat Statistik (BPS)
Rata-rata inflasi 2015-2024 adalah sekitar 2,9%. Namun ini adalah periode yang relatif jinak. Jika kita melihat periode yang lebih panjang (2000-2024), rata-rata inflasi mendekati 5% per tahun, termasuk lonjakan inflasi 2005 (17,1%) akibat kenaikan BBM dan 2008 (11,1%) akibat krisis global.
Yang lebih penting: inflasi yang Anda rasakan seringkali lebih tinggi dari angka resmi. Harga makanan, pendidikan, dan kesehatan — kebutuhan utama — cenderung naik lebih cepat dari inflasi rata-rata.
Berapa Bunga Deposito Saat Ini?
Mari kita lihat suku bunga deposito dari bank-bank besar Indonesia:
| Bank | Deposito 1 Bulan | Deposito 3 Bulan | Deposito 12 Bulan |
|---|---|---|---|
| BCA | 2,25% | 2,50% | 2,75% |
| Mandiri | 2,50% | 2,75% | 3,00% |
| BRI | 2,50% | 2,75% | 3,00% |
| BNI | 2,25% | 2,50% | 2,75% |
Sumber: Website resmi masing-masing bank, per awal 2026. Suku bunga dapat berubah sewaktu-waktu.
Bank digital dan bank yang lebih kecil mungkin menawarkan suku bunga lebih tinggi (4-6%), namun bank-bank besar yang menguasai sebagian besar simpanan masyarakat menawarkan kisaran 2,25% - 3,00%.
Jangan Lupa Pajak Deposito
Bunga deposito di atas Rp 7.500.000 dikenakan pajak final 20%. Artinya, jika deposito Anda memberikan bunga 3% per tahun, setelah pajak Anda hanya menerima:
3% × (1 - 20%) = 2,4%
Ya, return bersih deposito Anda hanya sekitar 2,4% per tahun setelah pajak.
Return Riil: Angka yang Sebenarnya Penting
Return riil adalah return setelah dikurangi inflasi. Ini adalah angka yang benar-benar menentukan apakah kekayaan Anda bertambah atau berkurang.
Mari hitung:
- Bunga deposito setelah pajak: 2,4%
- Inflasi rata-rata (konservatif): 3,0%
- Return riil: 2,4% - 3,0% = -0,6%
Dengan kata lain, setiap tahun daya beli uang deposito Anda berkurang sekitar 0,6%. Jika menggunakan inflasi yang lebih realistis (4-5%), return riil deposito Anda bisa mencapai -1,6% hingga -2,6% per tahun.
Ini bukan “investasi.” Ini adalah erosi kekayaan yang lambat dan pasti.
Dampak Erosi Daya Beli dalam Jangka Panjang
Angka -0,6% atau -1,6% per tahun mungkin terdengar kecil. Tapi efek compounding bekerja dua arah — termasuk terhadap kerugian. Mari lihat apa yang terjadi dengan Rp 100 juta yang hanya disimpan di deposito:
Skenario 1: Inflasi 3%, Deposito Netto 2,4%
| Tahun | Nilai Nominal | Daya Beli (Rp Hari Ini) |
|---|---|---|
| 0 | Rp 100.000.000 | Rp 100.000.000 |
| 5 | Rp 112.600.000 | Rp 97.000.000 |
| 10 | Rp 126.800.000 | Rp 94.100.000 |
| 20 | Rp 160.800.000 | Rp 88.500.000 |
| 30 | Rp 203.900.000 | Rp 83.300.000 |
Setelah 30 tahun, uang Anda secara nominal terlihat dua kali lipat — tapi daya belinya turun 17%. Rp 203 juta di tahun 2056 hanya bisa membeli apa yang Rp 83 juta bisa beli hari ini.
Skenario 2: Inflasi 5%, Deposito Netto 2,4%
| Tahun | Nilai Nominal | Daya Beli (Rp Hari Ini) |
|---|---|---|
| 0 | Rp 100.000.000 | Rp 100.000.000 |
| 5 | Rp 112.600.000 | Rp 88.200.000 |
| 10 | Rp 126.800.000 | Rp 77.900.000 |
| 20 | Rp 160.800.000 | Rp 60.600.000 |
| 30 | Rp 203.900.000 | Rp 47.200.000 |
Dengan inflasi 5%, daya beli Rp 100 juta Anda turun lebih dari setengahnya dalam 30 tahun. Uang yang seharusnya cukup untuk pensiun nyaman, tiba-tiba hanya bernilai separuhnya.
Contoh Nyata: Harga Barang Dulu vs Sekarang
Masih ragu? Coba ingat harga-harga ini:
| Barang/Jasa | ~2005 | ~2015 | ~2025 |
|---|---|---|---|
| Nasi goreng kaki lima | Rp 5.000 | Rp 12.000 | Rp 20.000 |
| Bensin Pertamax (liter) | Rp 4.500 | Rp 8.900 | Rp 13.300 |
| Biaya kuliah/semester | Rp 3 juta | Rp 8 juta | Rp 15 juta |
| Rumah tipe 36 (Jabodetabek) | Rp 80 juta | Rp 250 juta | Rp 500 juta |
Harga nasi goreng naik 4x dalam 20 tahun. Harga rumah naik 6x. Apakah deposito Anda bisa mengimbangi kenaikan ini? Tentu tidak.
”Tapi Deposito Kan Aman?”
Benar, deposito dijamin oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) hingga Rp 2 miliar per nasabah per bank. Dari sisi keamanan nominal, deposito memang sangat aman.
Tapi “aman” dan “cukup” adalah dua hal yang berbeda.
Deposito aman dari risiko kehilangan nominal. Tapi deposito tidak aman dari risiko inflasi. Uang Anda tetap ada, tapi nilainya berkurang setiap tahun. Ini seperti menyimpan es batu di dalam freezer yang suhunya sedikit di atas nol derajat — es-nya masih ada, tapi perlahan mencair.
Peran Deposito yang Tepat
Bukan berarti deposito tidak berguna. Deposito punya peran yang jelas:
- Dana darurat — uang yang harus bisa diakses kapan saja tanpa risiko penurunan nilai nominal
- Uang yang akan dipakai dalam 1-2 tahun — misalnya untuk DP rumah atau biaya pernikahan
- Porsi “aman” dari portofolio — sebagai penyeimbang aset berisiko
Masalahnya adalah ketika seluruh kekayaan Anda berada di deposito. Itu bukan strategi keuangan — itu penundaan yang mahal.
Lalu Harus Bagaimana?
Jika deposito tidak cukup, apa alternatifnya? Jawabannya adalah berinvestasi di aset yang return-nya bisa mengalahkan inflasi dalam jangka panjang. Beberapa opsi:
- Reksa dana indeks saham — return rata-rata IHSG sekitar 10-12% per tahun dalam jangka panjang, jauh di atas inflasi
- SBN Ritel (ORI, SBR, SR, ST) — kupon 5-6,5%, pajak hanya 10%, lebih baik dari deposito
- reksa dana pendapatan tetap — return 6-8% per tahun, risiko lebih rendah dari saham
Kuncinya bukan menghindari deposito, tapi jangan hanya mengandalkan deposito untuk tujuan keuangan jangka panjang.
Kesimpulan
Fakta-faktanya sederhana:
- Inflasi Indonesia rata-rata 3-5% per tahun
- Deposito bank besar memberikan bunga 2,25-3% (netto ~2,4% setelah pajak)
- Return riil deposito adalah negatif
- Daya beli uang deposito Anda berkurang setiap tahun
- Dalam 20-30 tahun, kerugian daya beli bisa mencapai 20-50%
Deposito bukan investasi — deposito adalah tempat parkir uang. Untuk uang yang tidak akan Anda gunakan dalam 5+ tahun, Anda memerlukan instrumen yang return-nya bisa mengalahkan inflasi.
Langkah pertama? Pahami bahwa tidak berinvestasi juga memiliki risiko — risiko kehilangan daya beli yang pasti dan tak terelakkan.
Sumber data: Bank Indonesia (bi.go.id), Badan Pusat Statistik (bps.go.id), OJK (ojk.go.id), website resmi BCA, Mandiri, BRI, BNI.
Disclaimer: Artikel ini hanya untuk edukasi, bukan saran investasi.