Kelas Aset Lain: Emas, Properti, Kripto
Apakah emas, properti, atau kripto layak masuk portofolio pasif Anda? Analisis jujur setiap kelas aset alternatif.
Kelas Aset Lain: Emas, Properti, Kripto
Setelah memahami saham dan obligasi, banyak investor bertanya: “Bagaimana dengan emas? Properti? Kripto?” Pertanyaan wajar. Mari kita bahas satu per satu dengan jujur.
Spoiler: untuk sebagian besar investor pasif, saham dan obligasi sudah cukup. Tapi memahami kelas aset lain tetap penting agar Anda tidak mudah tergoda janji return fantastis.
Emas
Kelebihan Emas
Emas sudah menjadi penyimpan nilai selama ribuan tahun. Di Indonesia, emas punya tempat khusus — banyak keluarga menyimpan emas batangan atau perhiasan sebagai “tabungan.”
- Lindung nilai terhadap inflasi dalam jangka sangat panjang
- Aset safe haven — cenderung naik saat pasar saham bergejolak
- Likuid — mudah dijual kapan saja
- Tidak ada risiko gagal bayar — emas adalah aset fisik
Kekurangan Emas
- Tidak menghasilkan pendapatan. Emas tidak membayar dividen atau bunga. Satu gram emas hari ini tetap satu gram emas 10 tahun dari sekarang — tidak berkembang biak.
- Return jangka panjang lebih rendah dari saham. Secara historis, return riil emas (setelah inflasi) hanya sekitar 1-2% per tahun.
- Biaya penyimpanan untuk emas fisik.
- Spread harga jual-beli yang bisa 2-5% untuk emas fisik.
Cara Investasi Emas di Indonesia
| Metode | Minimum | Kelebihan | Kekurangan |
|---|---|---|---|
| Emas fisik (Antam/UBS) | ~Rp 1 juta/gram | Bisa dipegang | Spread tinggi, perlu penyimpanan |
| Tabungan emas (Pegadaian) | Rp 10.000 | Murah, mudah | Return rendah |
| Emas digital (Tokopedia/Bibit) | Rp 500 | Sangat mudah | Perlu kepercayaan ke platform |
Rekomendasi untuk Investor Pasif
Emas boleh jadi 5-10% dari portofolio sebagai diversifikasi, tapi jangan jadikan aset utama. Jika Anda sudah punya portofolio saham dan obligasi yang baik, emas sifatnya opsional.
Properti
Mitos “Properti Selalu Naik”
Di Indonesia, ada kepercayaan kuat bahwa harga properti selalu naik. Ini tidak sepenuhnya benar.
Memang, harga properti di Jakarta dan kota besar cenderung naik dalam jangka panjang. Tapi perlu diingat:
- Banyak properti yang sulit dijual — likuiditas rendah
- Biaya kepemilikan tinggi — PBB, perawatan, renovasi, biaya notaris
- Return sewa (yield) di Jakarta hanya sekitar 3-5% per tahun — tidak jauh beda dengan deposito
- Harga properti di beberapa daerah bisa stagnan bertahun-tahun
Properti Langsung vs Tidak Langsung
| Aspek | Beli Properti Langsung | Reksa Dana/DIRE |
|---|---|---|
| Modal minimum | Ratusan juta - miliaran | Rp 10.000 |
| Likuiditas | Sangat rendah (bulan-tahun untuk jual) | T+1 sampai T+7 |
| Diversifikasi | 1 properti | Banyak properti |
| Biaya | Notaris, pajak, perawatan | Fee pengelolaan |
| Kontrol | Penuh | Tidak ada |
Rekomendasi untuk Investor Pasif
Jangan menganggap rumah tinggal sebagai investasi. Rumah tinggal adalah kebutuhan, bukan aset produktif. Jika ingin eksposur properti dalam portofolio, pertimbangkan DIRE (REITs Indonesia) — dibahas di artikel terpisah.
Kripto (Cryptocurrency)
Fakta Kripto di Indonesia
- Indonesia adalah salah satu pasar kripto terbesar di dunia berdasarkan jumlah pengguna
- Kripto di Indonesia diatur oleh Bappebti (bukan OJK) sebagai komoditas, bukan mata uang
- Platform resmi termasuk Indodax, Tokocrypto, Pintu, dan lainnya
Mengapa Kripto Bukan Investasi Pasif
Mari kita bicara jujur:
- Volatilitas ekstrem. Bitcoin bisa turun 50-80% dalam hitungan bulan. Bisa naik 300% juga, tapi apakah Anda tahan mental saat turun?
- Tidak menghasilkan apa-apa. Sama seperti emas, kripto tidak membayar dividen atau bunga. Keuntungan hanya dari selisih harga.
- Belum terbukti jangka panjang. Bitcoin baru ada sejak 2009. Kita tidak punya data 50-100 tahun seperti saham.
- Banyak scam. Untuk setiap Bitcoin, ada ribuan koin yang nilainya sudah nol.
- Regulasi masih berkembang. Aturan bisa berubah drastis kapan saja.
”Tapi Bitcoin sudah naik ribuan persen!”
Benar. Tapi survivorship bias sangat kuat di dunia kripto. Anda hanya mendengar cerita orang yang untung, bukan ribuan orang yang rugi.
Rekomendasi untuk Investor Pasif
Jangan alokasikan lebih dari 5% portofolio ke kripto, dan hanya jika Anda:
- Sudah punya dana darurat lengkap
- Sudah punya portofolio saham + obligasi yang solid
- Siap kehilangan 100% uang yang diinvestasikan
- Menganggapnya sebagai “uang jajan” bukan investasi serius
Perbandingan Semua Kelas Aset
| Kelas Aset | Return Riil Jangka Panjang | Volatilitas | Pendapatan Pasif | Cocok untuk Investor Pasif? |
|---|---|---|---|---|
| Saham (indeks) | 5-8% | Sedang-tinggi | Dividen | ✅ Ya — inti portofolio |
| Obligasi/SBN | 1-3% | Rendah | Kupon/bunga | ✅ Ya — stabilisator |
| Emas | 1-2% | Sedang | Tidak ada | ⚠️ Opsional 5-10% |
| Properti (DIRE) | 3-5% | Sedang | Sewa | ⚠️ Opsional |
| Kripto | Tidak diketahui | Sangat tinggi | Tidak ada | ❌ Spekulasi |
Kesimpulan
Dunia investasi memang luas, tapi Anda tidak perlu berinvestasi di semua kelas aset. Portofolio yang simpel dan konsisten akan mengalahkan portofolio yang kompleks tapi tidak disiplin.
Urutan prioritas:
- Dana darurat ✅
- Reksa dana indeks saham ✅
- Obligasi/SBN ✅
- Emas (opsional)
- Properti melalui DIRE (opsional)
- Kripto (jika benar-benar mau, dengan uang yang siap hilang)
Boring portfolio beats exciting portfolio. Setiap kali.
Disclaimer: Artikel ini hanya untuk edukasi, bukan saran investasi.